Rabu, Oktober 10, 2012

FONDASI METAFISIK EPISTEMOLOGI



FONDASI METAFISIK EPISTEMOLOGI


Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Filsafat Islam
Dosen Pengampu : Drs. Musta’in

Oleh:
1.      Neneng Puput Purwati   1123301112
2.      Mohammad Hilmy         1123301117
3.      Tri Diana Putri               1123301137
4.      Ajib Darojat                    1123301155
Tarbiyah/ 2 PAI 4
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO
2012



FONDASI METAFISIK EPISTEMOLOGI
1.      PENDAHULUAN

Fondasi metafisik sangat penting bagi sebuah epistemologi apapun karena sangat berpengaruh bagi seluruh bangunan epistmologi, termasuk di dalamnya sistem klarifikasi maupun metedologi yang digunakannya. Oleh karena itu, dalam makalah ini saya ingin mengkajinya, siapa tahu dapat memberikan sedikit “cahaya“ bagi epistemologi yang kita hadapi.

Untuk itu, kami akan membahas: kaitan metafisik dan epistemologi; basis ontologis epistemologi Islam, terutama pengaruhnya terhadap sistem klasifikasi hierarki ilmu; metode-metode ilmiah yang digunakannya, termasuk metode demonstratif, empiris, dan intuitif; dan upaya reintegrasi ilmu-ilmu berdasarkan fondasi metafisik diatas.



2.      PEMBAHASAN

A.    Metafisik dan Epistemologi
Sebelum kita mengkaji keseluruhannya, kita harus mengrti terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Metafisik Epistemologi atau bisa kita pisahkan pengertiannya masing-masing.
Metafisik itu sendiri berasal dari kata “meta” yang berarti sesudah, selain, atau sebaliknya. Sedangkan  “fisika” yang berarti nyata atau alam. Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh, metafisika adalah Ilmu yang memikirkan hakikat dibalik alam nyata. Metafisika memperbincangkan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap oleh pancaindera.[1]
Epistemologi dalam bahasa inggris lebih dikenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari kata “episteme” yang berarti pengetahuan dan “logos” berarti teori. Lebih rinci, epistemologi yaitu salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.[2]
Setiap epistemologi mengandaikan secara eksplisit atau implisit basis metafisik tertentu yang dengannya, bangunan epistemologi didirikan. Bahkan, ilmu-ilmu modern yang sering dipandang sekuler pun, ternyata juga memiliki fondasi metafisiknya, sebagaimana ditunjukkan Arthur Burts dalam bukunya The Metaphysical Foundantion of Moden Science. Kaitan metafisik dan epistemologi ini penting dikemukakan mengingat pengaruhnya yang besar terhadap sistem epistemologi yang dibangunnya. Afirmasi atau penolakan seorang ilmuwan terhadap status ontologis entitas-entitas metafisik. Sebagai contoh, keraguan atau penolakan dari banyak ilmuwan Barat terhadap dunia metafisik, telah menyebabkan mereka membatasi lingkup sains hanya pada objek-objek indrawi atau substansi-subtansi material. Sains kemudian hanya berkutat dengan entitas-entitas yang bisa diobservasi. Menurut istilah Holmes Rolston, sains hanya menjelaskan sebab-sebab efisien dan material saja, dan menyerahkan penjelasan sebab-sebab formal.[3]

Demikian juga dengan epistemologi Islam yang disusun oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Sebagai seorang yang memiliki kepercayaan penuh pada dunia metafisik., seorang ilmuwan Muslim, harus menyusun atau memiliki sebuah epistemologi yang cocok dengan kepercayaan tersebut. Tidaklah heran kalau kita menemukan banyak klasifikasi ilmu di dunia Islam yang memasukkan objek-objek fisik dan objek-objek nonfisik sekaligus.

Sudah disinggung di atas bahwa epistemologi Islam, sesuai dengan kepercayaan ilmuwan-ilmuannya kepada dunia metafisik, telah menciptakan teori ilmu yang membahas bukan saja objek-objek indrawi, sebagaimana ilmu-ilmu modern, tetapi juga objek-objek metafisik.
Jadi, tidak seperti kebanyakan ilmuwan barat yang telah meragukan status ontologis untuk objek-objek metafisik, ilmuwan-ilmuwan muslim memiliki kepercayaan yang kuat terhadap status ontologis dari bukan hanya objek-objek fisik yang kasap mata, tetapi juga objek-objek metafisik yang “gaib”. Objek-objek fisik ini mereka sebut sebagai mahsusat (objek-objek yang dapat ditangkap indra). Sedangkan objek-objek metafisik mereka sebut ma’qulat (objek-objek yang tidak bisa ditangkap indra, tetapi tidak dapat dipahami oleh akal manusia).
Walaupun objek-objek metafisik tidak bisa dilihat indra, tetapi diyakini memiliki status ontologis yang sama nyatanya dengan objek-objek fisik, bahkan mungkin, lebih riil daripada objek-objek indra. Pembagian objek-objek ilmu ke dalam yang material dan immaterial ini dapat dilihat misalnya dalam karya al-kindi berjudul Iqsam al-‘Ulum (Divisi Ilmu); dalam karya al-Farabi berjudul Ihsha’ al-‘Ulum (Enumerasi Ilmu); dan dalam karya Ibn Sina berjudul al-Syifa (Ilmu Penyembuhan).
Para ilmuwan atau filosof Muslim pada umumnya sepakat untuk membagi ilmu-ilmu filosof ke dalam ilmu-ilmu teoretis dan ilmu-ilmu praktis. Kemudian ilmu-ilmu teoretis dibagi lagi ke dalam kelompok besar ilmu: metafisika, matematika, dan ilmu-ilmu alam. Pembagian ilmu ini tentu tidak dilepaskan dari basis ontologis yang mendasarinya. Al- Kindi misalnya, membagi wujud ke dalam “entitas-entitas material” dan “entitas-entitas immaterial”. Lalu entitas-entitas immaterial tersebut dibagi lagi ke dalam: pertama, objek-objek yang pada dirinya bersifat immaterial tetapi masih memiliki hubungan dengan objek-objek material; kedua, objek-objek immaterial pada dirinya dan tidak punya kaitan apapun dengan materi, dan ketiga, objek-objek material yang selalu berada dan terkait dengan materi dan gerak.
Demikian juga Ibn Sina dalam kitabnya yang berjudul al-Syifa’, membagi objek ilmu ke dalam tiga kategori: Pertama, entitas-entitas yang bergerak dan berkaitan dengan materi spesies partikular, baik dalam pemahaman kognitif (pikiran) maupun dalam subsistensi (alam luar). Kedua, entitas-entitas yang terpisah dari materi materi spesies partikular dalam pemahaman kognitif tetapi tidak dalam dunia nyata. Ketiga, entitas-entitas yang terpisah dari gerak dan materi baik pada dunia nyata maupun dalam pemahaman-pemahaman kognitif (pikiran).
Dengan kata lain, dalam skema ontologis Ibn Sina, ada tiga kelas utama dari yang ada (mawjudat), yaitu: (1) wujud yang secara niscaya tidak bercampur dengan gerak dan materi; (2) wujud yang secara niscaya bercampur dengan gerak dan materi; dan terakhir (3) adalah wujud yang dapat bercampur dengan gerak dan materi tetapi juga memiliki wujud yang terpisah dari keduanya. Kelas utama pertama dari yang ada inilah, yang menjadi objek ilmu metafisik, seperti Tuhan dan jiwa. Sedangkan yang kedua menjadi objek ilmu-ilmu alam dan matematik, seperti kemanusiaan, ke-kuda-an, ke-persegi-an dan lain-lain. Adapun kelas ketiga, seperti identitas individual, kesatuan, pluralitas dan kausalitas.[4]
Objek-objek dari jenis ketiga di atas akan menjadi objek matematika, jika dapat dipahami pikiran tanpa melihat kepada materi dan gerak spesifik. Maka objek-objek tersebut akan menjadi, atau dipandang sebagai, objek-objek ilmu alam.
Akan tetapi, entitas yang sama akan dipandang sebagai objek-objek matematika itu merujuk kepada unit bilangan, dan pluralitas merujuk kepada bilangan-bilangan kuantitatif yang lebih besar  daripada bilangan yang dijadikan dasar ketika melakukan operasi aritmatika, seperti menjumlah, mengurangi, mengalikan, membagi, menentukan akar, dan sebagainya.
Menurut Al-Farabi, hierarki ilmu terkait erat dengan hierarki wujud. Untuk menentukan keunggulan dari ilmu-ilmu tersebut, dia mengajukan tiga macam kriteria: (1) keunggulan ilmu menurut kemuliaan objeknya; (2) menurut kedalaman pembuktiannya; (3) menurut kegunaanya.

B.     Metode Ilmiah
Metode ini dipandang oleh para ilmuwan Muslim sebagai berikut:
1.      Metode Filisofis (Burhani)
     Metode unggulan ilmu-ilmu filosof adalah apa yang disebut “metode demonstratif”. Adapun letak keunggulannya dibanding dengan metode lainnya adalah karena menggunakan silogisme atau penalaran logis, dengan menggunakan premis-premis yang “benar, primer, dan niscaya.” Atas dasar inilah, pembuktian demonstratif  dipandang sebagai metode pembuktian paling ilmiah.
2.      Metode Empiris
Selain menekankan aspek matematik dan metafisik atau simbolik, ada juga yang lebih menekankan pada penelitian fisik atau empiris. Ibn Rusdy dalam Kitab al- Kulliyyah, mengkritik penggunaan metode matematik (atau dengan katanya sendiri “seni aritmatik dan musik” dalam ilmu kedokteran.
3.      Metodee Intuitif (Irfani)
                        Selain metode demonstratif dan empiris yang masing-masing menggunakan observasi indrawi dan penalaran rasional, ilmuwan Muslim juga menggunakan metode lain yang disebut intuitif (irfani). Seperti yang dikatakan  Shams C. Inati, ada dua modus dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang diakui ilmuwan-ilmuwan Muslim: pertama,  “bergerak dari objek-objek yang diketahui menuju objek-objek yang tidak diketahui”. Kedua, “semata-mata merupakan hasil iluminasi langsmg dari dunia ilahi. Modus pengetahuan yang pertama adalah metode demonstratif atau penalaran logika.
    Berbeda dengan pendekatan rasional yang bersifat inferensial, pendekatan intuitif bersifat presensial, karena objek-objeknya hadir dalam jiwa seseorang, sehingga modus ilmu seperti itu disebut “ilmu hudhuri”.[5]




3.      KESIMPULAN
Keraguan atau penolakan dari banyak ilmuwan Barat terhadap dunia metafisik, telah menyebabkan mereka membatasi lingkup sains hanya pada objek-objek indrawi atau substansi-subtansi material.
Walaupun objek-objek metafisik tidak bisa dilihat indra, tetapi diyakini memiliki status ontologis yang sama nyatanya dengan objek-objek fisik, bahkan mungkin, lebih riil daripada objek-objek indra.
Para ilmuwan atau filosof Muslim pada umumnya sepakat untuk membagi ilmu-ilmu filosof ke dalam ilmu-ilmu teoretis dan ilmu-ilmu praktis. Kemudian ilmu-ilmu teoretis dibagi lagi ke dalam kelompok besar ilmu: metafisika, matematika, dan ilmu-ilmu alam. Pembagian ilmu ini tentu tidak dilepaskan dari basis ontologis yang mendasarinya.



Daftar Pustaka
Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,Jakarta:Rineka Cipta, cet.2, th.2001
Kartanegara, Mulyadhi. Nalar Religius, Jakarta:Erlangga, th.2007
Sudarsono. Filsafat Islam, Jakarta:Rineka Cipta, Th.2004



[1] Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,Jakarta:Rineka Cipta, cet.2, th.2001, hlm.114
[2] Ibid, hlm.137
[3] Kartanegara, Mulyadhi. Nalar Religius, Jakarta:Erlangga, th.2007
[4]Sudarsono. Filsafat Islam, Jakarta:Rineka Cipta, Th.2004
[5] Kartanegara, op.cit, hlm.112

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Pilih Bahasa

Arsip Blog